Langit berdiri setengah membungkuk ke bumi, memancarkan sinar kekuningan. Menghantarkan sinar yang redup ke halaman rumahku yang hina dina. Beberapa ekor ayam yang berada di halaman depan berlarian ke belakang menuju kandangnya yang megah. Burung-burung pun telah berterbangan ke sarang mereka masing-masing di balik bukit. Jengkerik mulai mempersiapkan segala macam hal untuk konser mereka nanti malam. Dan aku, aku hanya bisa duduk termenung di atas lincak di teras rumah bambuku.
“Nduk,” panggil seseorang dari dalam bilik rumah.
“Nggih, Mbok,” sahutku sambil bergegas ke dalam. “Ada apa, Mbok?” tanyaku setelah sampai di hadapan seorang wanita yang usianya telah menginjak empat puluh tahunan. Simbokku.
“Simbok nanti akan pergi ke hajatannya Pak Lurah kampung sebelah. Dia mau mengawinkan putranya yang nomor tiga itu, lo,” kata simbokku.
“Simbok kok ndak berhenti saja to, dari pekerjaan itu? Kita ini sudah sering dicemooh orang lo, Mbok,” kataku sedikit kecewa.
“Kalau simbokmu ini berhenti, kamu mau sekolah pake’ apa? Bayaran sekolah itu mahal, Nduk, ndak bisa dibayar pake’ dengkul. Sudahlah, kamu ndak usah aneh-aneh. Biar kata orang lain mencemooh simbok, asal kamu bisa pinter, simbok ikhlas, Nduk,” jawab simbokku.
“Ya aku ndak usah sekolah to, Mbok. Aku tak kerja aja.”
“Husss…diam lambemu. Ndak usah aneh-aneh. Kamu simbok sekolahin itu biar pinter, biar bisa mengangkat derajat kita. Bukan buat membantah omongan simbok. Tahu kamu?” tanya simbok geram.
“Lagian simbok ini kan cuma nayub, bukan sebagai lonte. Simbok ini cuma ledhek, cuma menari, simbok ndak menjual diri. Kamu harus tahu pekerjaan utama seorang ledhek, Nduk. Simbok cuma berniat nguri-nguri budaya jawi yang diwariskan oleh simbahmu dulu,” lanjut simbok.
“Nggih, Mbok. Sepuntene ingkang kathah,” jawabku dengan penuh rasa bersalah. “Nanti Simbok pulang jam berapa, Mbok?” tanyaku melanjutkan.
“Halah… kamu ini kayak ndak tahu kebiasaan tayuban aja. Ya seperti biasanya,” jawab simbok sembari berjalan ke dapur.
Jawaban simbok itu hanya aku sahut dengan O yang panjang. Sejurus kemudian terdengar kumandangan adzan maghrib dari surau satu-satunya di kampungku. Segera aku melesat ke kamar mandi, berwudhu. Cesss… usapan pertama air wudhu membasahi wajahku menyejukkan seluruh jiwaku. Setelah itu, aku melaksanakan salat maghrib, berdoa memanjatkan rasa syukur yang tak terkira kepada Gusti Pangeran serta memohon kepada Gusti Allah Ingkang Andamel Jagat atas keselamatan simbokku dalam setiap lakunya. Kemudian aku buka Mushaf Utsmani yang kubeli di toko buku di ujung pasar di kampung sebelah. Saat aku membaca ayat pertama, hatiku makin terasa damai. Ibadahku petang itu kututup dengan salat isya.
Selepas isya simbok sudah siap berangkat. Tinggal menunggu aku keluar dari kamar. Kusir dan andongnya sudah menunggu di halaman rumah. Kusirnya terlihat sangat ngantuk, dan kudanya bergerak-gerak karena digigit nyamuk. Tas perlengkapan simbok pun sudah diangkat ke atas andong. Sebentar kemudian aku keluar dari kamar. Kulihat wajah simbok yang sudah sedikit merona, pasti sudah dipoles dengan beberapa alat kecantikan.
“Simbok sudah mau berangkat?” tanyaku sekadar basa-basi.
“Iya, Nduk. Sudah jam segini. Ndak enak sama orang-orang kalau ndak segera berangkat.”
Aku menyalami tangan simbok dengan penuh takzim. Tiba-tiba menyeruak suatu perasaan yang tak enak dalam batinku, tapi rasa apakah itu, aku tak tahu. Mungkinkah ini mengenai simbok? Tanyaku dalam hati.
“Mbok, simbok ndak usah pergi saja,” kataku setelah selesai mencium tangannya.
“Kamu ini kenapa, Nduk? Tiba-tiba saja bilang seperti itu? Aneh-aneh saja,” tanya simbok sambil tersenyum.
“Pokoknya simbok ndak usah pergi. Hari ini simbok di rumah saja,” kataku sedikit merajuk.
“Kamu ini ndak usah ngalem. Simbok ini sudah ditunggu orang banyak, lo,” simbok tetap tersenyum.
Simbok berjalan keluar. Si kusir melihat simbok berjalan ke arahnya. Melihat langkah simbok yang mantap, hatiku semakin gundah. Aku berlari menghampiri simbok dan memeluknya dari belakang dengan sangat erat. Simbok membalas pelukanku. Kutekankan tubuhku yang kecil merangsek ke dekapan simbok. Simbok membelai lembut rambutku, kemudian melepas pelukanku.
“Sudah-sudah. Simbok ndak akan lama. Besuk subuh juga sudah pulang. Kayak simbokmu ini mau pergi jauh saja. Sudah, ndak usah nangis. Jangan lupa besuk simbok dibukakan pintu. Kalau ada tamu ndak dikenal, ndak usah dibuka. Oh ya, kamu minta oleh-oleh apa?”
“Ah ndak usah, Mbok. Yang penting simbok cepet pulang saja.”
“Ya yang penting, apa pun keadaannya kamu harus tetap nguri-nguri budaya kita, Nduk.”
Sebelum aku sempat mencerna maksud dari kata-kata itu, simbok sudah melesat di atas andong. Suara gemerincing andong menghiasi kepergian simbok. Semakin jauh jarakku dengan simbok, semakin pelan suara gemerincing andong itu, bertambah pula perasaan gundahku. Ada apa gerangan Gusti?
***
Jam di ruang tengah sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi, seharusnya simbok sudah berada di rumah sejak satu setengah jam yang lalu. Ke mana simbok? pikirku. aku jadi berpikiran yang tidak-tidak mengenai keadaan simbok. berkali-kali aku menggelengkan kepala, berusaha menghapus semua prasangka buruk terhadap simbok. Aku duduk di kursi rotan dengan perasaan yang terus melayang-layang tak keruan.
Simbok. Wanita paruh baya yang membesarkanku hanya dengan kedua tangannya. Orang yang merawatku sejak aku dalam kandungannya. Simbok. wanita yang ditinggal mati suaminya saat dia mengetahui kehadiran sebuah janin di rahimnya. Seorang wanita yang sangat tegar yang ditinggal mati oleh seluruh keluarganya. Nenek, kakek, paman, bibi, dan keluarga yang lain, semuanya telah meninggal mendahului simbok. Mereka meninggal beberapa puluh tahun yang lalu saat peristiwa “Gestapu.” Bapak, suaminya simbok, meninggalkan simbok pula belasan tahun yang lalu. Akulah satu-satunya yang tersisa dalam kehidupan simbok. Akulah sisa masa lalunya yang masih hidup hingga kini.
Kami hanya tinggal dua batang kara di sebuah gubug reyot peninggalan bapak yang tak kukenal wajahnya. Hidup hanya bergelimang kasih sayang antara aku dan simbok, meski keadaan berkekurangan materi.
Simbok. seorang ledhek senior yang sangat termasyhur di kecamatanku. Seorang penari ledhek yang lihai. Simbok. seorang wanita yang sering dicemooh wanita lain karena berhasil menggaet lakinya untuk tak pulang semalam suntuk hanya untuk menonton kelihaian simbok menari. Wanita yang disamakan seks bebas, walau sebenarnya tak pernah sampai segitunya. Ya… aku tahu simbokku hanya bermaksud nguri-nguri budaya yang diturunkan oleh leluhurnya. Di samping itu, simbok hanya mencari sesuap nasi untuk kami berdua dari tangan-tangan para adikaya.
Simbok tak pernah bermaksud menyodorkan buah dadanya untuk diberi saweran. Simbok tak pernah meminta para laki-laki untuk mendekatinya, memegang pantat atau kedua buah dadanya. Simbokku hanya menari dan terus menari. Simbok hanya melakukan apa yang dia ketahui, apa yang dia pelajari dari neneknya. Mungkin liukan tubuh simbok yang membuat banyak laki-laki mendekatinya. Ya, simbokku sekadar nguri-nguri,tak lebih. Orang lain saja yang tidak pernah mengetahui maksud simbok yang sebenarnya. Simbokku tak seperti yang orang katakan. Simbokku bukan seorang ledhek yang nyambi jadi lonte. Simbokku hanyalah seorang penari tayub, budaya yang telah ditinggalkan oleh masyarakatnya.
Tiba-tiba lamunanku terbuyarkan oleh suara gemerincing andong yang berhenti di depan rumahku. Simbok, pekikku dalam hati. Aku berlari menuju pintu depan. Kubuka pintu dengan harapan yang berdiri di balik pintu adalah sosok simbokku. Tapi, dia bukan simbok. yang berdiri di hadapanku adalah seorang laki-laki gagah dengan pakaian polisi. Aku melongo bukan kepalang.
“Selamat pagi, Dek?” sapa Pak Polisi itu.
“Se..selamat pagi, Pak,” jawabku sedikit gugup.
“Benar ini rumah Ibu Sukarti yang ledhek itu?” tanyanya.
“Iya benar, saya anaknya. Ada apa, Pak?” tanyaku sedikit degdegan.
“Begini, Dek. Saya harap adek sabar. Ibu adek sekarang sedang berada di Rumah Sakit Amanah. Ibu adek sepulang dari menayub, dirampok orang,” Pak Polisi berhenti sejenak membiarkan aku mencerna semua perkataannya. Air mataku mengalir dengan sendirinya.
“Dan… dan malangnya ibu adek itu dibunuh oleh perampok itu setelah sebelumnya dia diperkosa.”
Meledaklah tangisku. Orang-orang biadab, jeritku dalam hati. Orang semelarat simbok masih juga dirampok, bahkan kebiadaban juga mereka lampiaskan dengan memperkosa orang setua simbokku itu. Betapa jahatnya makhluk yang bernama manusia itu. Pikiranku benar-benar berubah jadi kacau. Jiwaku terasa terguncang dengan perginya simbok. Secepat ini simbok pergi, aku sendiri sekarang, air mataku jatuh berderai-derai. Pandanganku tiba-tiba gelap. Aku pingsan.
Entah berapa lama aku pingsan. Saat terbangun, aku telah berada di atas kasurku yang sangat keras. Di sampingku telah duduk seorang wanita tua. Mak Ijah. Tetanggaku yang paling perhatian kepada keluargaku. Wajah Mak Ijah terlihat gusar melihat aku telah sadar.
“Sabar ya, Nduk,” kata Mak Ijah kepadaku sambil membantuku bangun. Aku kembali menitikkan air mata.
“Iya , Mak,” suaraku ku kuat-kuatkan.
“Doakan saja semoga simbokmu diterima di sisi Pangeran.”
“Iya, Mak. Cuma aku ndak habis pikir, kok ada orang setega itu kepada orang lain. Simbokku itu orang melarat, Mak,” aku kembali tersedu.
“Sudahlah, Nduk. Namanya hidup itu ya seperti ini. Kadang kalau dipikir itu memang mokal, ndak mungkin. Tapi itulah yang terjadi. Gusti Allah itu Maha Adil, pasti di balik ini semua ada hikmah yang bisa kita petik. Kamu terima saja semuanya dengan lapang.”
“Nanti bagaimana, Mak?”
“ Nanti jenazah simbokmu akan diantarkan ke sini oleh pihak rumah sakit, tapi sekarang ini masih di… dioto… oto apa gitulah kata pak polisi yang tadi ke sini.”
“Diautopsi?” tanyaku sambil tersenyum.
“Ya, ya itu maksudku tadi,” kata Mak Ijah malu-malu.
Setelah perasaanku benar-benar tenang kembali Mak Ijah mengajakku mempersiapkan segala yang dibutuhkan untuk menyambut kedatangan jenazah simbok dan untuk acara pemakamannya sekaligus karena hari masih pagi. Semua persiapan hanya kulakukan dengan Mak Ijah dibantu oleh Kang Diman, putra semata wayang Mak Ijah. Para tetangga tak ada yang mau datang.
Pukul sebelas kurang lima, sebuah mobil ambulance berhenti di pelataran rumahku. Jenazah simbok diturunkan dan di letakkan di atas lantai tanah yang sudah kututupi dengan tikar. Penutup tubuh simbok kuganti dengan kain jarit yang telah aku persiapkan. Saat aku buka penutupnya, kulihat wajah simbok yang putih pucat tak teraliri darah. Tapi wajah yang pucat itu tampak lebih ayu dari biasanya. Subhanallah seruku dalam hati. Simbok, tanpa make up seperti ini wajahnya terlihat lebih berseri-seri. Oh, simbokku.
***
Tujuh hari berselang, selamatan peringatan kematian simbok telah selesai. Semua itu kukerjakan dengan bantuan Mak Ijah beserta anaknya. Tanpa bantuan mereka, aku tak akan mampu menyelesaikan semuanya. Terimakasih, Mak.
Aku kini bekerja di kebun jeruknya Haji Qosim. Semua itu untuk memenuhi kebutuhan hidup dan selamatan simbok. Walau kadang aku merasa sangat sedih harus bekerja semacam ini, tapi inilah hidup sarat dengan cobaan. Kata-kata Mak Ijah itu selalu aku gunakan sebagai penyulut kobaran semangatku untuk bertahan hidup.
Di suatu petang yang cerah, sepulang aku dari kebun Haji Qasim, aku betemu dengan Pak Dhe Djono, pimpinan tayub simbok dulu. Dia menyapaku dengan ramah.
“Nduk, bukankah kamu anaknya Si Sukarti yang Ledhek itu?” tanyanya.
“ Iya, Pak Dhe. Saya Lasmi, putrinya Sukarti, ledhek yang mati beberapa hari yang lalu karena dirampok orang.”
“Bagaimana kehidupanmu sekarang, Nduk?”
“ Saya sekarang ya seperti ini, Pak Dhe. Bekerja sebagai seorang buruh di kebun jeruknya Haji Qasim, itung-itung untuk memenuhi kebutuhan hidup, Pak Dhe.”
“O alah, Nduk. Kasihan sekali dirimu ini. Kenapa kamu ndak ikut sama aku saja? Nguri-nguri budaya kita. Melanjutkan jejak simbokmu. Bagaimana? Apakah kamu mau?”
“Ah, Pak Dhe bisa-bisa saja. Saya pikir-pikir dulu Pak Dhe,” jawabku sambil tersenyum malu.
“Aku ini beneran lo, Nduk. Kamu ini mirip sekali dengan simbokmu. Kamu pasti akan menjadi ledhek yang terkenal seperti simbokmu.”
“Terima kasih, Pak Dhe. Saya pikir-pikir dulu. Terima kasih banyak Pak Dhe atas tawarannya.”
“Ah, ndak usah sungkan-sungkan. Besuk lusa aku tak ke rumahmu. Tak tunggu jawabannya, ya?”
“I…Iya Pak Dhe,” aku gugup dengan pertanyaan itu. “Saya permisi dulu, sudah sore.”
“Iya iya, Nduk. Sampai bertemu besuk lusa ya?” aku hanya mengangguk pelan sambil tersenyum ke arahnya, kemudian aku bergegas pulang.
Sesampainya di rumah pikiranku dikacaukan dengan pernyataan Pak Dhe Djono di jalan tadi. Sehabis mandi kuhempaskan tubuhku ke kursi rotan yang atos. Kurenungkan semua kata-lata Pak Dhe Djono. Haruskah aku mengikuti jejak simbok menjadi seorang ledhek? Tapi, menjadi ledhek berarti akan menjual diri ke setiap lelaki yang mendekatiku. Menjadi ledhek berarti mengizinkan setiap laki-laki menyentuh pantat, buah dada, dan barang-barang rahasiaku yang lainnya. Maukah aku menjadi seperti itu? Pikiranku melayang-layang. Jiwaku lelah, dan aku pun tertidur.
Dalam tidur aku seperti mengulang detik-detik kepergian simbok menuju rumah Pak Lurah hendak menayub. Semuanya seperti terulang kembali. Waktu seakan berputar. Semua perkataan simbok terngiang kembali di benakku, dan yang terakhir diucapkannya adalah ‘“yang penting, apa pun keadaannya kamu harus tetap nguri-nguri budaya kita, Nduk.”’ Seketika itu aku terbangun dari tidur. Apakah itu pesan simbok untukku setelah kepergiannya? Tanyaku dalam hati. “Ah ndak. Simbok ingin aku menjadi seorang yang pintar, bukan seorang ledhek.”
Aku berjalan sempoyongan ke kamar tidur. Aku benar-benar lelah hari ini. Kurebahkan tubuhku yang setengah tak sadar itu ke atas kasur dari kapuk randhu. Aku kembali berlayar ke alam mimpi.
Lagi-lagi peristiwa menjelang kepergian simbok terulang. Semuanya berputar seperti kejadian aslinya. Semua perkataan simbok pun terngiang begitu jelas di telingaku. Setelah simbok mengucapkan kata terakhirnya, mimpi itu pergi lagi, aku pun segera tebangun. Aku bingung menghadapi mimpi yang dua kali berturut-turut tetap sama. Apa maksudnya? Apa iya ini pesan dari simbok agar aku mengikuti jejaknya? Entahlah! Kurebahkan kembali tubuhku dan segera kupejamkan mataku aku begitu penat. Namun, baru sekejap aku menutup mata, kata-kata simbok diakhir kepergiannya terngiang di telingaku. Terus memenuhi ruang otakku.
Aku bangun dengan peluh membasahi sekujur tubuhku. Tapi kini tekatku benar-benar bulat. Aku akan mengabdikan diri menjadi seorang ledhek. Ledhek yang terkenal seperti harapan simbok. Ledhek yang memiliki tujuan untuk nguri-nguri budaya daerah, ya… niatan simbok yang disalah artikan oleh banyak perempuan. Aku akan mengikuti jejak simbok. Setelah itu, aku kembali tidur dengan nyenyak. Tekatku benar-benar bulat.
Keesokan paginya aku segera melesat ke kediaman Pak Dhe Djono. Tak tahan aku menunggu hingga hari esoknya saat Pak Dhe Djono datang ke rumahku. Aku mengutarakan niatanku untuk menjadi seorang ledhek yang masyhur. Pak Dhe Djono menanggapinya dengan senyum puas. Aku pun dipersiapkan menjadi seorang ledhek dengan berbagai macam latihan. Mulai menari, berdandan, berpakaian, meletakkan dompet di antara dua buah dadaku, mengundang berahi lelaki sampai bagaimana cara merespon para lelaki yang mendekatiku hendak menyawer. Semuanya kupelajari dalam waktu yang singkat karena minggu berikutnya akan ada tayuban di rumah Pak Dollah petani terkaya di kampungku. Aku harus ikut menari dalam acara itu. “Wajib,” kata Pak Dhe Djono.
***
Setengah tahun berlalu. Kini aku telah menjadi seorang ledhek yang sangat terkenal. Niat pertamaku pun berhasil. Aku bisa membuat semua orang menonton tayuban, baik laki-laki ataupun perempuan. Hal itu karena aku tidak hanya menampilkan tarian yang bisa mengundang berahi para lelaki, tapi aku juga menampilkan tarian yang sedap dipandang mata oleh semua mata, tua muda, laki perempuan.
Aku berhasil membuat semua orang kembali memandang budaya yang hampir hilang. Aku telah berhasil membelokkan pandangan jelek mereka tentang tayub. Aku mampu memasukkan unsur budaya yang lebih sehingga orang-orang tak hanya memandang tayub sebagai sesuatu yang merusak moral. Kini mereka mampu melihat sisi positif dari tayub itu sendiri. Walaupun tayub tak akan pernah bisa lepas dari yang namanya nyawer, dari yang namanya berahi laki-laki, dan juga tarian-tarian pengundang nafsu. Karena memang pada dasarnya tayub, tarian, nyawer, nafsu dan laki-laki itu adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Aku telah berhasil memilih atas sekian banyak pilihan hidup menuju suatu yang baik. Memang waktu akan selalu mendukung apa yang kita lakukan asal kita menghargai keberadaannya. Waktu memang akan selalu berharga. Yang tak berharga adalah manusia yang tak berusaha untuk mencari hikmah dari hidup yang diberikan oleh Gusti Allah. Yang tak berharga adalah kita. Kita yang tak bisa mensyukuri pemberianNya. Selain itu… semuanya adalah berharga, bernilai, dan… penuh makna.
SEKIAN
Kediri,
Rabu, 02 Desember 2009. 18:20
By:
Qurnia Ni’matul Ulfah
Glosarium:
* Lincak : dipan, tempat biasa untuk duduk
* Nduk : panggilan untuk anak perempuan
* Simbok : ibu
* Mak : ibu
* Lambe : mulut
* Nayub / tayub : suatu acara yang menampilkan tarian
* Ledhek : penari dalam tayub
* Lonte : pelacur
* Sepuntene ingkang kathah : mohon ma’af yang sebesar-besarnya
* Ngalem : manja
* Nguri-nguri : memelihara
* Nyawer : memberi uang kepada penari
* Atos : keras
Kamis, 11 Maret 2010
PILIHAN NASIB
Label:
Cerpennya Qiqy
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar